Dalam memperluas jaringan kabel fiber serat optik (fiber optic) PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) memprakarsai pembangunan di kawasan
timur Indonesia. Pembangunan serat optik kali ini dibangun di tanah
Papua. Investasi proyek ini mencapai US$ 71,1 juta.
Proyek yang digelar ini dibagi menjadi 2 bagian yakni wilayah
pembangunan serat optik di kawasan Papua Utara dengan rute Sorong –
Manokwari – Biak – Jayapura. Sedangkan yang kedua adalah papua Selatan
dengan rute Fakfak – Kaimana – Timika. Pembangunan ini ditargetkan akan
selesai dan mulai beroperasi pada November 2014.
Seperti yang di ungkapkan oleh Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan bahwa “hal ini merupakan bagian dari program Telkom untuk mewujudkan konektifitas di kawasan timur Indonesia”. Proyek yang dinamai Papua Cable System ini pun adalah sebuah program Telkom yakni Digital Network 2015 dan percepatan MP3EI.
Fiber serat optik atau yang dikenal fiber optic merupakan Kabel yang
memiliki inti serat kaca sebagai saluran untuk menyalurkan sinyal antar
terminal sering dipakai sebagai saluran BACKBONE karena kehandalannya
yang tinggi dibandingkan dengan coaxial cable atau kabel Unshielded
Twisted Pair (UTP). Kabel ini tidak terpengaruh oleh cuaca dan panas.
Yang memungkinkan untuk di pergunakan di wilayah Papua karena mengingat
daerah pegunungan, yang selama ini, masih sering terjadi kendala karena
cuaca apabila menggunakan satelit.
Fiber optic sendiri memiliki kelebihan dibandingkan dengan media
kabel lainnya dalam hal pengiriman data kecepatan tranfernya yang sangat
tinggi. Sehingga fiber optic mampu mentransfer data yang cukup jauh
yaitu antara 2500 meter tanpa bantuan perangkat repeater. Selain itu
kabel ini tahan terhadap interferensi dan frekuensi-frekuensi yang ada
di sepanjang jalur instalasi, tidak hanya itu kabel ini memiliki ukuran
yang cukup kecil dan ringan sehingga tidak banyak memakan tempat dalam
instalasinya.
Bagian fiber optik itu sendiri dapat di bagi menjadi 3 bagian. Diantaranya yang pertama single mode yaitu serat optic dengan core yang sangat kecil, sekitar 8 mikro meter. Yang kedua multi mode step index yaitu serat optik yang sedikit lebih besar dibandingkan single mode dengan 10 micro meter. Yang ketiga Multi Mode Grade Index yaitu serat optic dengan diameter terbesar dibanding dua jenis lainnya. Jenis yang ini jarang di pergunakan dikarenakan urusan alasan tertentu.
Dengan dimulainya pembangunan infrastruktur ini dirasa akan mampu
mengoptimalisasi segala informasi yang diperoleh melalui media online
guna memperlancar pembangunan maupun di bidang perekonomian khususnya di
wilayah timur yaitu Papua, sehingga wilayah pelosok pun dapat mengakses
informasi lebih cepat dan tepat.
Manfaat yang lainnya pun dapat dirasakan apabila tergelarnya fiber optik di Papua, diantarannya keterbatasan informasi yang selama ini menjadi kendala dapat segera teratasi, menumbuh kembangkan perekonomian atas informasi yang di dapat, mencerdaskan generasi muda di bidang pendidikan sehingga memotivasi akan kemajuan di tanah Papua


0 Comments